Our First Reksadana(s)

13 01 2010

Yeaaa…akhirnya punya dan berhasil punya reksadana juga 🙂 

Hehe setelah kedatangan gua ke-4 kalinya ke agen penjual reksa dana (RD), pertama ke bankmandisendiri syariah, dan ampe ke-3x ke bank mandisendiri konvensional

Kenapa sampe ampe 4x dateng baru bisa berhasil beli?

Mungkin karna gua blum pengalaman, yang pasti pas dateng pertama ke bank yang syariah, ketemu CSnya mungkin masih training, coz ditanyain RD malah melongo, bingung, trus balik nanya, ibu perlu informasi apa nanti saya tanyain ke bagiannya, lahhh…

Disitu dapet info RDnya ada 2 jenis, lupa apa aja, pokonya start 100juta, ok, it’s not suitable for me as new-starter investor

Cari-cari info lagih, dapet di bankmandisendiri konvensional juga agen penjual RD dan disitu ada berbagai MI termasuk yang mengelola syariah punya.

Janjianlah sama CS bank itu yang paling deket ma kantor, kebetulan CSnya bapak-bapak yang kayaknya dah dapet penghargaan as CS teladan, dibuktiin dengan gayanya yang ngedadahin gua dengan melambaikan keduan tangannya pas gua baru masuk pintu bank, jiyaaa 😉 Ealah melambai tho’… xixixixi…

Beuh, kali ini pembukaannya panjang pisan. Dia ampe bilang seneng deh, punya nasabah yang udah aware sama investasi non-deposito dan tabungan. Saking antusiasnya ada gua nangkring di kursi tu CS ampir sejam, gubraks…temen gua yang nunggui ampe kelaperan berat jadinya errgghhh… Bagusnya ni bapak CS lengkap nian menjabarkan produk RDnya. Semua portofolio MI dia print-in buat gua, dia terangin atu-atu dari RD pendapatan tetap sampe saham. Ampe diana nyontohin akunnya sendiri yang dia tanem di RD pendapatan tetap. Yaaa lumayan dia invest 50juta dipertengahan November, dan di pertengahan Desember dapet bunga 2,5juta

Sebelnya lagi pas Pak CS nanya: ”Mba beli RD untuk apah?”

Gua: “Buat dana pendidikan anak gua sama dana pensiun suami gua”

Langsung deh jiwa agen asuransi unitlink-nya (catet: unitlink) keluar, doeennggg! Mule deh dia njelasin tu produk asuransi pendidikan, blah…blah…blah…

Hadeeehhh gua buru-buru niy, udah ngebet punya RD, halah udah kayak menyangkut hidup mati ajah hehe…

Padahal gua pengen nutup tahun 2009 kemaren dengan sakseis menuhin target investasi awal gua.

Tibalah saatnya…yang paling menyebalkan, pas gua udah desak terus: “Jadi gimana, saya bisa beli RDnya ga?”

Dijawab: “Bisa mba, mba mau yang berapa, 150 juta apa 250 juta?”

Gua: “Haaa…saya mah investor pemula Pak CS, baru belajar, banyak bener ampe ratusan jeti hikikikik 😉 Ada kan produk yang mulainya ratusan ribu sajah?”

Pak CS: “O_o ada Mba, tapi mahap, saat ini bursa sudah tutup, jadi sudah tidak ada transaksi.”

Gua: Plakk “Whoootttttt?” Grrhhhh…. *mangkel

Yaeyalah dah tutup dia nyeramahin gua dari sekitar jam 11 lewat sampe jam ½ 1an, innalillahi…Walhasil hari itu batal gua beli RD ya…

Gua niat balik lagi ke bank sejenis tapi yang deket rumah, pas sama gua cuti akhir taun, tu bank kan masih buka ½ hari, gua dateng lagi ke kali ini Ibu CS

Ini Ibu CS juga bingung pake form apa buat beli RD…Hadeehh ini CS-CS senior (kalo ga mau dibilang tuwir) ko kayak ga paham produk bank-nya ya ealah… dan karena udah mau tutup taun lagi-lagi dibilang sudah tidak ada transaksi, ihhh gua males dah beli RD, sebbelll 😦

Tapi setelah konsul sama Dhita, bunda Azka yang udah lumayan sering bela-beli RD as investasi, gua dikasi tau, kalo dibilang bursa dah tutup, minta aja CS-nya execute besok harinya, jadi kita ga bolbal ngurusin itu doang, duhhh benerrr, trims banget inponya sangat berguna Dhit 🙂

Pas cuti ada panggilan yang di Pulo Gadung, gua sempetin paginya mampir lagi di Ibu CS, masih inget dong ya sama gua hehehe 😉 Tapi ga ada tuh dia nerangin seperti yang diterangin si Bapak CS yang melambai, ahhh baik juga tu Bapak CS mau bagi ilmu dan inpo lumayan lengkap ma gua 😉 Masih aja ada yang kurang, niy Ibu CS kaga punya standing instruction form untuk installment plan ato pendebetan tiap bulan RD gua, alamakkk…cakeppp…yo wes itunya next time bu *sigh

Jadi deh gua udah punya 2 RD, satu RD campuran dan satu lagi saham. 2-2nya dikelas syariah (lagi-lagi ini preferensi gua aja, selama ada produk syariah, gua pake! Tapi kalo ga ada berarti kan kondisi darurat, bole yang konvensional dipake, hehe itu pandangan awam gua aja yak 😉 )

Nah, catetan sedikit soal RD seperti ini ya, beberapa juga hasil ngobrol sama temen yang udah duluan investasi di RD:

  • Agen Penjual RD : bisa bank atau Manajer Investasi langsung yang harus terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana di Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK)

  •  Jenis RD (mutual fund) konvensional (biasa) ato ada RD terstruktur, terproteksi, dll. Cukuplah coba yang biasa dulu untuk new-starter kayak gua:

 

  • Reksa Dana Pasar Uang
  • Reksa Dana Pendapatan Tetap
  • Reksa Dana Saham
  • Reksa Dana Campuran

 

  • Manajer Investasi : pihak yang kegiatan usahanya mengelola portfolio efek untuk para nasabah atau mengelola portofolio investasi kolektif untuk sekelompok nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Misalnya kalo pernah denger Danareksa Investment Management, Fortis Investments, Mandiri Manajemen Investasi, Manulife Aset Manajemen Indonesia, Schroder Investment Management Indonesia itu contoh MI-MI besar dan beberapa seperti Danareksa dan Mandiri itu milik pemerintah. Sebaiknya sebelum melakukan transaksi pembelian (subscription) RD, kita baca dulu prospektus RD yang diminati dan portofolio (kinerja) MI-nya.

 

  • Bank Kustodian : pihak yang memberikan jasa penitipan efek dan harta lain berkaitan dengan efek serta jasa lain, termasuk menerima deviden, bunga, dan hak lain, menyelesaikan transaksi efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya.

 

  • Installment Plan : fasilitas ini memberikan kemudahan kepada nasabah, agar dapat membeli reksa dana (top up) secara berkala tanpa perlu melakukan transaksi pembelian (subscription) di Cabang. Rekening tabungan nasabah akan didebet (pada Hari Bursa) sesuai dengan jumlah dan tanggal yang telah ditentukan. Nah fasilitas ini bermanfaat buat investasi yang kayak gua perluin. Jadi gua bisa menghitung kalo nanti usia Lanafarra 4 tahun dan mau masuk playgroup yang uang pangkalnya 25juta, gua mesti subscription beli RD berapa, sisanya dicicil berapa per bulan biar nanti pas untuk masuk playgroup gituh. Inget ya, kita ga usah perhitungin dulu bunga, bagi hasil, NAB dan sebagainya. Fokus harus tetep untuk investasi sampe 4 tahun kedepan, gitu kata Dhita 😉

 

Inget : High Risk – High return >< Low Risk – Low Return

 

  • Diversifikasi investasi, ingat: ”Never put your eggs in one basket” . Nah sasaran selanjutnya logam mulia niy, siap-siap dulu ach 🙂

 

  •  Keuntungan investasi di RD: diversifikasi alias banyak macemnya, MI yang profesional, likuiditas yang tinggi (setiap saat nasabah/ investor dapat melakukan penjualan kembali (redemption) unit penyertaannya dan MI wajib membelinya kembali dan membayarkannya maksimal T+7 hari bursa), banyak pilihan dan fleksibilitas (baik itu reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, saham atau campuran yang sesuai dengan kebutuhan nasabah/ investor, bisa juga dilakukan switching (pengalihan) dari satu reksa dana ke reksa dana lainnya, transparansi laporan keuangan serta laporan portofolio secara berkala, dan biaya rendah (misal biaya subscription tergantung dari MInya, ada MI yang free subscription fee, ada juga yang mengenakan 1-2.5% subscription fee)




Asuransi

20 11 2009

Akhirnya, setelah muter-muter, plarak-plirik kiri-kanan, digodain kiri-kanan, udah dapet asuransi seperti yang daku cari. Sejak sering baca-baca blognya mrshananto jadi bikin melek finansial, walo blom mampu hire plannernya secara fee-nya gede bow, lah uang yang mau di-plan kaga seberapa hihi 😉 Jadi sekarang target dalam perencanaan keuangan yang daku bikin sendiri, harus dimasukkin target hidup hehe…Yang kalo bisa siy tercapai yaaa.

Nah taun ini targetnya selain nyukupin Dana Darurat terus harus punya Asuransi Jiwa untuk Ayah sama Dana Pendidikan buat Lanafarra. Trus Bunda apa dong, yah namanya juga Finance Minister, menteri keuangan keluarga kecil, yah bos-bosnya dulu yang diurusin, abdi dalem belakangan wakakakak 😉

Tenang daku juga lagi menghitung pos-pos yang berat ke posisi menteri ini niy, kek Dana Shopping, dana Liburan, etc, yeaaa I like it 😀 Balik lagi ke tujuan lo apa? Asuransikah? Dana Daruratkah? Dana Pensiunkah? Dana Pendidikankah? Dana Liburankah? Arghhh aku maw semuaaaa….

Dari situsnya Wina ini jadi dapet beberapa pencerahan soal asuransi. Diantaranya:

Fungsi asuransi adalah sebagai proteksi nilai finansial kalo misalnya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Kita akan memerlukan asuransi untuk melindungi diri dari kesulitan finansial seperti :

  • Biaya Kesehatan – biasanya dalam bentuk fasilitas kantor atau Asuransi Kesehatan
  • Cacat tetap total akibat kecelakaan – dimana kita tidak bisa bekerja normal sehingga memerlukan “modal” untuk dapat memulai hidup baru
  • Kehilangan penghasilan utama keluarga pemberi nafkah – jika terjadi meninggal pada pemberi nafkah utama keluarga, maka keluarga kita memerlukan uang dalam jumlah besar untuk menyambung hidup.

Nah, sekarang kebutuhan asuransi keluarga gua apa sech?

  • Asuransi Kesehatan – supaya kalau memang sakit, gak perlu mengeluarkan dana besar untuk biaya kesehatan, rawat jalan atau rawat inap. Saat ini memang Ayah, Bunda, Lana dicover oleh kantor tapi untuk rawat jalan dari kantor Ayah sistemnya medical cash payment, jadi dikasiin tiap bulan, jadinya sering kepake buat yang laen deh huuu… Jadi masih perlu beli asuransi kesehatan lagi ga ya, khususnya buat Ayah ma Lana? Ini masih jadi PR niy, selama ini masih bisa dihandle, tapi insyaAllah akan dipikirin gimana baiknya…
  • Asuransi Jiwa – fungsi utamanya untuk menggantikan warisan. Jadi jika sampai terjadi apa-apa seharusnya kan kita punya dana yang dapat dijadikan warisan. Menurut Wina problem orang pada umumnya karena masih muda, atau karena gak pernah investasi selama ini, jadinya proses ’wealth creation’ nya belum selesai. Jadi apa yang mau diwarisin padahal anak masih kecil-kecil. Untuk contoh Ayah yang punya 2 tanggungan (bunda dan Lanafarra), artinya harus tersedia UANG PERTANGGUNGAN yang cukup besar agar jika terjadi sesuatu ahli warisnya dapat melanjutkan hidup dengan lifestyle yang hampir sama.

Cara menghitung Uang Pertanggungan yang gampang = Jumlah pengeluaran tiap bulan x 12 bulan x 10 tahun = ?

Nih misalnya keluarga kecil si Ayah pengeluarannya 10 juta tiap bulan, berarti uang pertanggungan yang dibutuhin 10 juta x 12 bulan x 10 tahun = 1,2 M.

Artinya kalau terjadi apa-apa, keluarga si Ayah bisa memanfaatkan 1,2 M untuk melanjutkan hidup dan berinvestasi.

Jenis asuransi yang direkomendasiin Wina adalah asuransi jenis term 10 tahun (istilahnya asuransi term life). Term ini adalah asuransi jiwa murni. Ciri-ciri asuransi ini, kalo terjadi meninggal akan keluar 1,2 M, jika tidak terjadi meninggal maka tidak keluar apa-apa, alias hangus seperti juga asuransi mobil atau asuransi kebakaran properti.

Wah rugi dong?

Kata Wina: Gak… karena seperti beli payung, fungsinya melindungi dari ’hujan’.

Ilustrasinya begini Ayah naik mobil, payung disimpan di bagasi, diluar hujan Ayah gak kebasahan kan. Artinya payung ini gak dipake karena Ayah belum perlu keluar dari mobilnya. Gak rugi juga kan berarti simpan payungnya? Yang penting kalau memang perlu keluar dari mobil, payungnya cukup besar dan Ayah gak kebasahan.

Kenapa jenis term yang dipilih, karena alasan efisiensi biaya demi uang pertanggungan (UP) yang sesuai dengan kebutuhan.

Ilustrasi lagi:
Term 10 tahun, laki-laki, 27 tahun, tidak merokok

UP = 1 M –> perkiraan Premi = 3 juta/ tahun (TIDAK ADA NILAI TUNAI)

Kalau jenis asuransinya bukan term, premi yang akan dibayarkan sangat besar dengan UP 1,2 M. Kalau preminya dikecilin, UP nya jadi kecil juga. Misal UP 280 juta mungkin terasa banyak saat ini… tapi dengan biaya hidup 10 juta, artinya 280 juta itu akan ’selesai’ dalam 28 bulan = kurang lebih 2 tahun, sedangkan anak kan masih kecil 😦

Trus kenapa hanya 10 tahun?

Biasanya orang umur 27 itu karirnya belum terbentuk dengan jelas. Karir seseorang baru jelas polanya di usia 35 tahun kata Wina. Jadi biasanya rekomendasi untuk usia <35 tahun adalah Term 10 tahun. Kalo untuk usia >35 tahun menggunakan Term 20 tahun.
Artinya, lama pertanggungan hanya perlu selama masa produktif saja = mulai bekerja hingga usia 55 tahun. Setiap 2 tahun, rekomendasi asuransi ini pun harus terus direvisi dan disesuaikan dengan perkembangan karir si pemberi nafkah dalam keluarga.

Dengan premi asuransi jiwa yang rendah, jadinya bisa alokasi dana lebih banyak untuk investasi demi mencapai tujuan-tujuan Dana Darurat, Dana Pendidikan dan Dana Pensiun yang kita pengen. Investasi harus efisien, jangan bayar biaya-biaya kemahalan didalamnya.

Asuransi term life ini jangan berdiri sendiri, tapi harus dibarengi dengan menabung dan/ atau investasi lain. Investasinya ke mana? Salah satunya : Reksadana (insyaAllah daku mau posting juga kalo dah kelar perburuannya 😉 )

Asuransi ya untuk asuransi, perlindungan.

Teteup harus perhatiin berapa UP yang dibutuhin dan berapa premi yang harus dibayar.

Investasi ya untuk investasi.

Perhatikan juga berapa kebutuhan investasi, bandingin sama kemampuan kita berinvestasi. Trus perhatiin risikonya. Terakhir baru deh perhatiin returnnya berapa dan ada gak produk yang returnnya bisa lebih baik?

Setelah searching-searching kesana kemari, ternyata cukup susyah juga ya nyari asuransi sesuai kebutuhan keluarga kecilkuw. Soalnya gua pengennya yang syariah, soalnya sekarang dah banyak kan produk syariah dan jelas diatur sama Dewan Syariah, jadi insyaAllah bia menghindar dari riba (itu menurutku lo ya…) 🙂 Coba cari ke AXA Mandiri Syariah, ora ono yang jenis term, Bumiputera Syariah apalagi, kebanyakan sekarang pada main unitlink, emang lagi hip kan ya.

Tapi akhirnya dapet pencerahan pas ngubungin Asuransi Takaful keluaran Bank Muamalat. Disitu ada produk pure asuransi jiwa term kontrak 10 tahun UP sesuai kebutuhan preminya sekitar 2,5juta namanya Takaful Falah. Aku sampe bolak balik nanya (tentunya dengan bahasa orang awam yang samsek kaga ngarti perasuransian 😉 ), ini full proteksi kan, tidak mengandung unsur investasi hihi…keknya gua dah terdoktrinasi banget ni ma Wina huekekeki…

Dan bener kata Wina, kalo pure asuransi jiwa, preminya ga akan segede unitlink. Asuransi ini bisa ditambahkan fasilitas personal accident, cash plan, cacat tetap total dan critical illness. Eh ternyata kelebihan produk ini kalo peserta tidak ada klaim selama masa perjanjian, maka akan diberikan nilai tunai/ tabungan kepada peserta. Weikss, kata Wina sebaiknya jangan ambil yang ada nilai tunai coz berati sebagian uang kita dipakai untuk investasi, mending kita investasi sendiri. Trus dapet penjelasan lagi begini: nilai tunai yang ada di Takaful falah adalah bonus untuk nasabah dari akumulasi bagi hasil tabarru yang disetorkan lewat premi dan bukan unsur investasi, karena yang memutarkan dana falah adalah takaful sendiri bukan manager fund/ manager investasi yang memang bermain di investasi. Ow gitcu, yasutralah, dengan bismillahirrahmanirrahim aku ambil deh.

Masih banyak niy PR-PR untuk menuhin tujuan keluarga gua apa, biar dicentang semua gituh…Masih harus banyak belajar juga, sama yang pasti masih harus banyak kumpulin duitnya ya gaaa…

Tips beli asuransi dari Ligwina Hananto niy:

  • Belilah Asuransi Jiwa jika Anda memiliki tanggungan.
  • Jangan pernah mengasuransikan jiwa anak Anda.
  • Belilah asuransi murni agar Anda dapat memperoleh Uang Pertanggungan maksimal dengan premi yang efisien.
  • Perhatikan Uang Pertanggungan (UP) Meninggal Anda. Tanyakan berapa lama keluarga Anda dapat bertahan hidup dengan besarnya Uang Pertanggungan tersebut. Minimal keluarga anda harus dapat bertahan hidup selama 10 tahun.
  • Artinya UP 100 juta akan bermakna besar jika penghasilan Anda 1 juta per bulan. Namun jika penghasilan Anda 10 juta per bulan, UP 100 juta itu akan habis dalam waktu 10 bulan.