Minyak…Minyak

6 11 2009

Makan makanan yang digoreng rasanya enak kan ya. Gurih, renyah, kriuk hehe… Sebenernya ada baik dan buruknya lho makan gorengan alias makanan yang digoreng-goreng. Menurut pakar gizi olahraga ini, saat kita makan makanan yang digoreng itu sama saja kita memakan lemak yang memang dibutuhkan oleh tubuh. Lemak kan = kalori = gemuk = tenaga, yang pasti memang kita butuhin untuk beraktivitas sehari-hari kan. 1gram lemak = 9 kalori, kalo dikurangin brati tubuh kita juga kehilangan sumber kalori ya, kan ga mungkin dieliminasi samsek, yah seengganya coba disubsitusi ke yang paling minimal deh. Jadi kita masih dapet keuntungannya konsumsi makanan berminyak dan mengurangi juga biar terhindar dari penyakit kek jantung, stroke, dll 🙂

Seperti postingan butter or margarine lalu, kan lemak yang bagus itu yang kandungan monounsaturated dan polyunsaturated fat-nya yang lebih banyak. Keterangan lebih lanjut tentang lemak kek ini:

Monounsaturated Fat menurunkan total kolesterol dalam darah terutama LDL dan meningkatkan HDL
Polyunsaturated Fat menurunkan total kolesterol dalam darah terutama LDL
Saturated Fat meningkatkan total kolesterol dalam darah dan terutama meningkatkan LDL
Trans Fat meningkatkan LDL dan menurunkan HDL

Jadi golongan yang bae-bae:

Lemak baik : lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated fat), lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fat) — Kolesterol baik : high-density lipoprotein (HDL)

Kalo golongan jahatnya:

Lemak jahat : lemak jenuh (saturated fat), lemak trans (trans fat) — Kolesterol jahat : low-density lipoprotein (LDL)

Naa, makanan yang digoreng pake minyak yang mengandung asam lemak jenuh, setelah mengalami proses metabolisme, bisa jadi bakal bikin profil lipid (lemak) dalam darah kita jadi tinggi. Makin tinggi asupan asam lemak jenuh, makin tinggi deh kolesterol. Kalo dah kolesterol yah sakit-sakit itu tadi deh ancemannya 😦 So minyak apa siy yang bagus, ada ga siy?

Menurut mamakoki, minyak masak pada dasarnya ada 2 macam yaitu minyak masak (cooking oil) dan minyak bumbu (seasoning oil). Yang banyak dipakai buat masak-masak tumis-tumis kan minyak jagung, minyak kelapa, minyak zaitun, minyak wijen (eh buat masak ga ya hekekek…), minyak bunga matahari juga keknya pernah denger. Liat deh komparasi lemaknya dalam minyak-minyak tersebut:

tabel-fatty-acids

  

 

Menurut Wikipedia, pemanasan akan mengubah karakteristik minyak. Minyak yang tadinya menyehatkan dalam suhu ruang bisa jadi ga sehat saat dipanasin melebihi temperatur tertentu. Jadi waktu milih minyak masak, perlu diliat karakteristik toleransi minyak pada panas dan cara memasak. Coba lihat satu-satu ya yang sering dipake ibuk-ibuk yuk

 

dougo-purecanola-l

Minyak Canola

 

Minyak Canola diklaim memiliki kandungan lemak jenuh sangat rendah dan lemak tak jenuh tunggal tinggi sampai 58%, dan juga mengandung asam lemak omega-3. Canola tuh dari ’Canadian oil, low acid’. Dibuat dari biji bunga Canola yang banyak tumbuh di Canada.

Minyak Canola ini bersifat tahan panas dan tidak cepat berasap saat dipanaskan pada suhu tinggi. Karena itu saat bahan makanan digoreng (deep frying) minyak akan mematangkan secara merata. Bahkan pada saat ditiriskan, minyak yang menempel pada bahan makanan lebih cepat tiris sehingga tidak banyak tertinggal pada makanan. Hasilnya, gorengan memiliki kalori 5%-10% lebih rendah. Warna gorenganpun sangat alami, kuning keemasan dengan rasa renyah dan gurih yang prima. Karena banyak produknya masih impor rata-rata minyak jenis ini masih mahal. Merk-merk yang bisa kita jumpai di supermarket misalnya Dougo, Bernoulli, dll

  

Corn Oil

Seperti namanya, minyak jagung ini masuk juga ke dalam vegetable oil yang punya kandungan 99% trigliserida, 59% asam lemak tak jenuh ganda, 24% asam lemak tak jenuh tunggal, dan 13% asam lemak jenuh. Disini biasanya dipakai buat yang lagi diet. Merknya ada kek Tropicana Slim, dll. Harganya sama mahalnya dengan minyak zaitun.

  

Olive Oil

Nah minyak ini alias minyak zaitun paling banyak dipake ya. Selaen buat luluran, melembabkan dan menghaluskan kulit, ternyata bisa juga dipake masak sodari-sodari 🙂 Walopun ada ketentuannya, catet yaaa…

Dari sini diterangin beberapa jenis olive oil.

Extra Virgin Olive Oil.  Minyak paling murni merupakan hasil ekstrasi pertama, warnanya kehijauan. Bagus digunakan untuk campuran makanan matang, antara lain salad, topping pizza, campuran sayur rebus, atau sebagai celupan roti. Jenis ini tidak bagus untuk menggoreng atau menumis karena kadar acidity regulation alias kandungan minyaknya sangat rendah, selain itu rasa dan aromanya lebih tajam. Untuk diminum sebaiknya yang jenis ini.

Virgin Olive Oil.  Warna hijau kekuningan, minyak zaitun murni ditambahkan minyak zaitun sulingan dg tujuan untuk meningkatkan potensi antioksidanya yang hilang selama proses pengolahan minyak zaitun sulingan.

Pure Olive Oil.  Warna kekuningan. Cocok digunakan untuk menumis atau menggoreng, namun bisa juga digunakan sebagai tambahan pada makanan matang.

Extra Light Olive Oil.  Warna lebih jernih dari Pure Olive Oil. Sempurna untuk menggoreng atau menumis, dapat juga digunakan sebagai campuran kue atau es krim.

Light Olive Oil.  Kadar asamnya lebih banyak dari Extra Virgin Olive Oil n Virgin Olive Oil, diatas 4%. Ada pengalaman di pabrik penyulingan minyak zaitun di Tripoli. Sementara Extra Virgin Olive Oil kadar asamnya 0,5-1% warna yg dihasilkan kehijauan, Virgin Olive Oil hijau kekuningan kadar asamnya sekitar 4%, nah yg Light Olive Oil warnanya kekuningan.

Tambahan inpo, hasil riset Departemen Epidemiology Harvard University menunjukan, wanita yang banyak mengkonsumsi Olive Oil risiko terkena kanker payudara menurun 50% 🙂 Merknya di supermarket ada banyak, Bertolli, Dougo, Al apa gitu merk Arab yang pake kaleng warna hijau, Filippo Berio, Crapelli, dll. Gak disarankan loh ya pake minyak ini untuk makanan yang digoreng sampe kerendem minyak. Katanya untuk nambah berat badan anak dan omega-3 bisa masukkin 1 sdm virgin olive oil ke makanannya.

 

Sunflower oil

Minyak biji bunga sunflower mengandung vitamin E esensial yang tinggi dan kandungan lemak jenuh rendah. Yang biasa digunakan sebagai minyak masak adalah jenis yang linoleat, yang memiliki kadar lemak tak jenuh ganda yang tinggi. Minyak ini memiliki citarasa enak dan rendah lemak trans.

 

Coconut oil

Minyak kelapa mengandung 92% asam lemak jenuh. Wuih, ga bagus dong ya buat dikonsumsi 😦 Pengolahan minyak kelapa ini banyak dilakukan dirumahan, seperti nenekku sering bikin dari kelapa yang direndang istilahnya, nanti keluar minyaknya trus disaring. Saat ini olahan minyak kelapa kayak minyak kelapa murni (Virgin Coconut Oil/ VCO) banyak banget ya ditemuin. Minyak kelapa murni dengan kandungan utama asam laurat ini memiliki sifat antibiotik, anti bakteri dan jamur. VCO memiliki kadar air dan kadar asam lemak bebas yang rendah, berwarna bening, berbau harum, serta mempunyai daya simpan yang cukup lama yaitu lebih dari 12 bulan. Jika dibandingkan dengan minyak kelapa biasa atau sering disebut dengan minyak goreng (minyak kelapa kopra) minyak kelapa murni mempunyai kualitas yang lebih baik. Minyak kelapa kopra akan berwarna kuning kecoklatan, berbau tidak harum dan mudah tengik sehingga daya simpannya tidak bertahan lama (kurang dari dua bulan).

Advertisements




Butter or Margarine?

6 11 2009

Sebenernya ini kebingungan gua ma mentega, margarin ato butter. Yang mana yang mentega, mana butter, mana margarin binun. Apalagi kandungannya, lieur euy 😉 Tapi setelah baca katanya margarin lebih baik dari mentega, jadi pengen tau komposisinya *ahh ngetop sekali komposisi sekarang inih 😉 Hasil bros-bros dapet kek dibawah, moga bener, soalnya banyak pendapat, sembari sebelum makan bismillah dulu 🙂

Butter atau margarine, manakah yang baik?

foto butter dari WikipediaButter atau mentega berasal dari lemak hewan (krim yang diproduksi sapi), air, susu (bagian padat dari susu) dan garam. Kandungan garanya berkisar antara 1,5-3%. Mentega yang terbuat dari lemak hewan biasanya mengandung lebih banyak lemak jenuh/ saturated fats (66%) dibanding lemak tak jenuh/ unsaturated fats-nya (34%). Lemak jenuh ini biasanya berhubungan dengan tingginya kadar kolesterol dalam tubuh (ini kubaca disini). Biasanya digunakan sebagai olesan roti dan biskuit, sebagai perantara lemak di beberapa resep roti dan masakan, dan terkadang bahan untuk menggoreng. Butter/ mentega yang sering kita temui di supermarket misalnya merk Orchid, Anchor, dll

 

Foto Margarine dari WikipediaKalo menurut situs ini, margarin yang banyak diproduksi sekarang dibuat dari minyak sayur/ minyak goreng (vegetable oil) yang dengan proses hidrogenasi berwujud padat pada suhu kamar, dulunya dari lemak hewani juga. Margarin yang banyak beredar sekarang umumnya terbuat dari minyak jagung atau minyak kedelai. Margarin yang banyak dijumpai di supermarket misalnya Meadowlea (ada yang salt-reduced lho), Filma (ada yang jenis unsalted), ato yang terkenal Blue Band

Dari MayoClinic diketahui, margarin memiliki kandungan lemak ’baik’ — lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated) dan lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated) – daripada butter/ mentega yang berasal dari lemak hewan. Jenis lemak ini membantu menurunkan low-density lipoprotein (LDL) atau biasa disebut kolesterol ‘jahat’ – yang terkandung dalam lemak jenuh (saturated fat).

Tapi ga semua margarin sama. Saat proses hidrogenasi akan menghasilkan asam lemak yang disebut trans fat acid yang tidak sehat. Seperti lemak jenuh, lemak trans ini bisa meningkatkan kolesterol dan risiko penyakit jantung dan stroke. Trans fats ini dapat menurunkan kadar high-density lipoprotein (HDL) atau kolesterol ‘baik’.

Waktu milih margarin, pilihlah yang kandungan trans fat-nya serendah mungkin dan kurang dari 2 gram total lemak jenuh dan trans fat-nya (biasanya tertera pada label).

Pernah liat juga di Oprah Show, kata dr. Oz, hati-hati memilih makanan Periksa selalu ingredients (komposisi) *nah banci komposisi lagi kannn hikikik 😉 , kalo ada kata mengandung partially hydrogenated oil (ato yang mirip gitu), mendingan jangan deh karena udah pasti itu mengandung lemak trans. Prinsipnya sebisa mungkin hindari makanan yang mengandung lemak trans dan kurangi lemak jenuh sebanyak mungkin (karna aga susah yang dieliminasi samsek). Bagusnya pilih lemak tak jenuh tunggal dan ganda aja, kalo emang terpaksa banget. Yahh jadi kepikiran minyak-minyak buat goreng-goreng deh. Baca-baca lagi ahhh…