Bicara tentang Komunikasi

6 06 2017

Berapa banyak orang menghabiskan waktunya berkomunikasi dengan orang lain dalam hidupnya sehari-hari?

Berapa banyak pula orang yang mengakhiri proses komunikasinya tersebut dengan bahagia karena mencapai tujuannya atau malah mengakhirinya dengan rasa mangkel, dongkol, atau baper akibat interaksinya dengan lawan bicara yang (akhirnya dianggap) menyebalkan, tidak mau mengerti, susah dibilangin, endebre endebre…

Kalau dipikir-pikir, setiap orang mulai dari bayi yang baru lahir pun sampai orang yang sudah renta pun pasti melakukan komunikasi dengan berbagai bentuk sehari-harinya.

Lalu masalahnya dimana?

Kalau untuk saya pribadi, banyak….hahaha…apa karena komunikasi sering dijadikan alasan untuk terjadinya kesalahpahaman, perbedaan pendapat yang berujung ribut, bukan hanya dengan pasangan hidup lho ya, bisa dengan orang tua, teman, kalau saya dengan klien sewaktu kerja, hahaha…

Trus salahnya dimana? Trus kurangnya dimana? Kalau saya melihat untuk pertama kali pasti ke dalam diri saya dimana letak banyak salahnya, banyak kurangnya. Kenapa ke diri sendiri, karena saya berprinsip, hanya saya dan Allah yang bisa dan punya kendali (penuh) atas diri saya, tidak suami, tidak anak, tidak juga orang tua saya.

Lalu muncul selisih paham dalam komunikasi dimana? Nah baru deh sekarang kita intip teorinya…kenapa pakai teori, iya dong…kan Rasulullah bilang berilmu dulu baru beramal, kalau mau komunikasinya efektif dan produktif ya harus tau dulu teorinya, haiisshh…mantabh yaah 😉

Jadi sekarang saya akan mencoba untuk menerapkan komunikasi efektif dan produktif, kenapa? Karena saya ingin mencapai tujuan saya, insya Allah supaya ilmu yang didapat tidak sia-sia, untuk bagian awal dan paling mendasar saya akan memperbaiki komunikasi dengan diri sendiri dulu, baru nanti dengan orang-orang di sekitar saya.

Dari teori yang saya baca, langkah awal untuk memulai komunikasi produktif dengan diri sendiri adalah dengan memilih kosakata yang kita gunakan sehari-hari. Selama ini kata-kata yang salah pilih rasanya sudah baik, sudah santun, dengan intonasi beragam sesuai keadaan emosi hahaha…tapi udah kecepatan bicara memang saya agak gaspol dikit alias cepet ngomongnya, nah ketemu deh satu SFI istilahnya dulu waktu suka ngaudit yaitu scope for improvement, kenapa bisa diperbaiki, karena tidak semua orang bisa cepat mengerti apa yang saya maksudkan, terutama bicara dengan anak-anak, atau saat menjelaskan suatu teori kepada mahasiswa di kelas, walau sudah menggunakan analogi atau contoh memang sebaiknya saya memelankan cara bicara saya *deal 😀

Menurut teori, kosakata yang kita pakai adalah keluaran spontan dari struktur berpikir dan cara kita berpikir. Jika kita terbiasa berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya. Setuju ga? Kalau saya setuju banget, karena sering liat contohnya di teman-teman sekitar 🙂 Jika kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya, itu kata teori. Pemilihan kosakata juga dikatakan sebagai  pencerminan diri kita yang sesungguhnya, karena apa? Karena ternyata pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Dahsyat juga yaa…makanya sampai ada peribahasa: tong kosong nyaring bunyinya yaa…Walaupun bunyi tapi kalau terbiasa membiarkan kinerja otak negatif ya yang nyaring bunyinya alias cempreng wahahahahha…Makanya kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna, tsaaahh…

Memang ga semua hal harus dikondisikan positif, tetapi kalau kita tau bahwa kata-kata yang kita ucapkan itu secara ga sadar memberikan energi, kenapa ga kita pilih kata-kata kita yang selalu bawa banyak energi positif dong…secara energi positif itu di suatu kondisi, susah untuk didapatkan sedang energi negatif sangat mudah menyebar alias didapatkan, bener ga?

Lalu ketika ada masalah, ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, keinginan apa kita tidak boleh menanggapinya negatif? Menanggapi boleh, tetapi reaksinya yang harus tetap positif, gimana caranya…salah satunya ya tadi mengganti kata-kata yang sifatnya negatif menjadi positif misal kata masalah diganti dengan tantangan, kata susah diganti dengan menarik, kata tidak tahu diganti dengan akan cari tahu…

Yang saya rasakan, ketika mencoba mengganti kata-kata menjadi lebih positif, pertama didalam dada muncul rasa senang, sepertinya saya sudah memang duluan karena berhasil melihat si ‘masalah’ jadi tantangan, padahal baru keucap di bibir doang, di hati terasa senang. Menurut teori, ketika kita berbicara ‘masalah’ kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi. Tapi kalau kita mengubahnya dengan ‘tantangan’, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi, great!

Nah tantangan yang sebenarnya dihadapi buat saya adalah ketika berinteraksi dengan anak, ini dulu yaa…lawan bicara lain akan dipertimbangkan di lain waktu hahahha…Kenapa dengan anak saya berharap bisa melakukan komunikasi yang efektif dan produktif, pertama karena saya ingin menjadi tauladan yang baik dalam mendidik dan memberi pengajaran untuk anak-anak saya, kedua saya ingin anak-anak saya akhirnya meniru dan mengambil hal-hal yang baik termasuk cara berkomunikasi dari saya sebagai ibunya. Semua ini saya lakukan karena rasa tanggung jawab saya tentunya sebagai Ibu yang nanti akan saya bawa di hadapan Allah di hari akhir nanti, jika saya bisa melalui tahap ini dengan baik, insya Allah balasan besar dari Allah sudah menanti 😀

Lanjut dari pemilihan kata-kata tadi berhubung saya orang yang terbiasa bicara cepat, maka kadang lawan bicara saya kesulitan memahami maksud ucapan saya. Nah langkah awal yang akan saya coba perbaiki adalah bagian intonasi dan suara yang ramah, kenapa begitu…ya itu tadi dengan kebiasaan bicara cepat, kadang intonasi dan keramahan suara saya kurang terdengar, maksudnya kedengeran judes bin jutek gitu, wkwkwkwkwk…

Minggu kemaren, anak saya yang sulung sedang mengikuti Penilaian Akhir Sekolah. Biasa di waktu ini, suasana rumah tegangannya suka naik turun nih mengikuti suara mulut dan suara hati alias emosi si empunya rumah. Kadang rumah rapi, tapi lebih sering berantakannya. Ga sempet beberes yang penting nemenin si Kakak belajar dulu. Nanti pas sesi belajar ada aja gangguan datang dari si Adek, nah kan…tantangan mempraktekkan ilmu komunikasi produktif dicoba, apa pas ketemu masalah, di hati dan pikiran tetap dianggap masalah atau di upgrade jadi tantangan? Keseringan sih masih mengganggap tetap masalah dan berakhir temenan sama reaksi emosi negatif, tapi nanti di kondisi lain pengen nyoba lagi lebih sering ketemu si tantangan…gitu terus mikirnya.

Trus apa besoknya sudah berhasil menaklukkan si tantangan, rasanya sih belom juga, wong masih pekan ujian hahahha…mulai ngeles, tapi justru saat seperti ini ya saat yang tepat untuk latihan, tapi biar tetap waras dan eling, diawal sudah dibilang dulu ke si Kakak dan Adek bahwa ibunya lagi belajar dan punya PR buat latihan melakukan komunikasi produktif, jadi kalau meleset dikit alias nada naik mata melotot mohon dimaafkan dan diingatkan hahahha…kalau udah gini harusnya tambah semangat ya latihannya, karena penontonnya ada bocah-bocah yang secara langsung melihat prakteknya. Besok cerita lagi ya lanjutan praktek minggu lalu, apa ada perubahan ke arah kebaikan atau gimana… Nanti coba saya letakkan di alat ukur semacam tabel ya, supaya progress nya terukur insya Allah…

 

 

 

Advertisements