Ga mompa lagi

21 07 2010

Rasanya mau cerita ini, ada sedikit rasa nyeesss, sedih…

Tepat Lana usia 22m15w, bunda berenti mompa ASI di kantor

Ga bawa gembolan isi perlengkapan pumping lagi, ga bawa breast pump dan kawan-kawan lagi

Ga bersahabat sama kulkas koperasi lagi (tempat nitipin botol ASIP Lana) 😥

Semua perlengkapan termasuk baskom+sikat botol+tempat sabun yang udah hampir 2 tahun nempatin wastafel kamar mandi di Production Office ini, sudah pulang kerumah

Sedih juga…mengingat perjuangan dari awal masuk kantor abis cuti melahirkan dulu, sampe pumping di mobil travel pas ‘dipaksa’ ikut outing

Waktu pumping juga udah berkurang, dari dulu awal masuk sampai Lana 6 bulan 4x mompa dikantor, trus 3x sampe Lana 18m, trus 2x setelah Lana 20m dan akhirnya 1x dan udahan deh mompanya sekarang

Hasil pumping juga udah sangat jauh menurun, palingan hanya 30ml-an

Tapi kalo malam Lana masih aktif nyusu langsung 1-3x tergantung pas pules engga bobonya…

Ini akan jadi kenangan indah, perjuanganku memberikan ASI untuk Lanafarra, sedikit lagi perjuangan ini mencapai titik puncaknya, saat Lana 2 tahun, insyaAllah

Yeah…I think this is the of my breastpumping story *sesugrukan 😥





Salah Satu Peran Breastfeeding Father sebagai Perawat Payudara..!!

29 12 2009

Satu lagi artikel bagus dari mba Elona ‘Lolo’ Melo…

Banyak tulisan (yang mungkin pengalaman) blio yang menurutku berharga banget dan menggugah hati…

😀

Jadi kutaro di blog ini (dengan pemenggalan tertentu) untuk jadi catatanku

Kukutip dari postingan di milis asiforbaby tanggal 28 Desember 2009

Dear all…

Sebelumnya maaf bila posting saya kali ini mungkin banyak yang tidak berkenan atau mungkin dianggap macam-macam (semoga tidak ya). Semua ini saya niatkan untuk membantu para ibu menyusui yang sering mengalami bengkak payudara.

Begini, banyak postingan tentang ibu menyusui yang payudaranya bengkak, dari yang ringan sampai yang akhirnya mastitis. Saya teringat seorang sahabat bernama Efina Meiry (Pinot kupinjem ya ceritanya…) yang semangat sekali menyusui anaknya, namun kena mastitis parah, hingga payudaranya harus dioperasi dan di usia 3 bulan Hideo anaknya harus berhenti minum ASI.

Saat anak pertama, saya juga gagal menyusui karena puting yang super-inverted dan luka yang tak tertahankan, mohon dimaklumi masih jaman kegelapan. Nah saat itu sebetulnya seorang bidan yang menemani saya di RS sempat melihat puting saya dan berujar “Bu, pentilnya jelek amat, bapak ngapain aja niy, nanti gag bisa sukses menyusui kalo begini caranya”.

Ucapan bidan tersebut tidak semuanya benar. Karena apapun bentuk putingnya insyaAllah bisa menyusui asal latch-on nya benar (toh bayi menyusu bukan di puting). Tapi satu hal yang saya ingat betul yaitu kata-kata “Bapak ngapain aja…”

Saat lahir anak ke2, luka diputing rupanya terjadi lagi, begitu juga pada anak ke3. Ditambah bengkak yang masyaAllah sakit luar biasa. Akhirnya saya meminta bantuan suami untuk mengoleskan salep dan mengompres PD saya yang bengkak. Ternyata bengkaknya berkurang jauh lebih cepat ketimbang saya mengompres sendiri, bersamaan dengan itu mengalirlah ASI yang tersumbat tadi.

Saya jadi teringat bahwa, biar bagaimanapun bagi seorang wanita payudara adalah daerah genital yang dipenuhi dengan syaraf-syaraf halus dan peka terhadap sentuhan. Berproduksinya hormon oksitoksin pada wanita antara lain pada saat terangsang pada daerah genital, saat mengeluarkan ASI (inget pancingan kilik PDnya mba Lutvita saat mau memerah…mengusap puting dari luar bra…) juga…ehem ehem…saat makan coklat.

Gerakan pijat payudara sendiri yang saya liat di beberapa buku dan brosur kesehatan sebetulnya sederhana. Untuk suami mereka akan dengan sangat ikhlas melakukannya, dan kalau saya memang lebih memilih dilakukan suami daripada orang lain walau sama-sama wanita. Kecuali dalam keadaan yang sudah membutuhkan tenaga ahli.

Terbukti dari testimoni beberapa ibu menyusui bahwa saat mereka melakukan hubungan suami istri, biasanya terjadi LDR (let down refleck) dan ASI mengalir deras. Bahkan ada yang saat ingin memerah, minta bantuan suami untuk memancing LDR.

Jadi memang dukungan suami dalam pemberian ASIX bukan hanya terbatas pada membantu busui dengan memberikan semangat saat terjadi baby blues atau saat semangat untuk memerah saat drop, bergantian ronda di malam hari saat baby agak rewel, membantu mengganti popok dan menemani baby main.

Seorang Breastfeeding Father punya peran yang jauh lebih besar lagi yaitu sebagai “perawat payudara busui”.