Anak adalah sekolah, tempat belajar merawat, mendidik dan membesarkan

15 12 2009

Ada beberapa hal positif yang ku-highlight di memoriku dalam 2 hari ini. Aku simpan sebagai suatu pelajaran yang sangat-sangat berharga.

Ucapan yang keluar dari ucapan bunda Elona Melo, salah seorang temen milis asiforbaby dan milis sehat yang tertimpa musibah hari Minggu lalu 13 Desember 2009 sangat-sangat menyentuh.

Ucapan dan kata hati seorang bunda yang dengan tegar, tabah dan ikhlas berhadapan dengan ujian Allah yang sungguh berat ini, aku acung 4 jempol untuknya. Berharap aku bisa belajar menjadi ibu seperti beliau 🙂

Bunda Elona kehilangan putri pertamanya, Khonsaa (9 tahun) yang tenggelam saat berenang di kolam renang Hotel Harris, Jakarta 😦

Pagi itu, Khonsaa berenang bersama Zaenab dan Thollah adik-adiknya, ditemani ayah dan sepupunya di hotel Harris. Anak ini sudah pandai renang, didukung pula sang Bunda yang guru renang. Namun Allah berkehendak lain. Khonsaa ditemukan tidak sadarkan diri dan langsung dilarikan ke RS. Kejadian jelasnya tidak ada yang mengetahui secara pasti dimana saat itu kolam renang memang dalam keadaan ramai.

Saat beberapa anggota milis yang sempat melayat ke rumah duka di daerah Koja, mengatakan sosok bunda Lolo sebagai seorang wanita dan ibu yang sangat sangat tegar, menceritakan mengenai kejadian tragis yang menimpa putri tercintanya. Tetes demi tetes mengalir air matanya, mengenang sosok Khonsaa.

Anak pertama adalah sekolah baginya, tempat ia belajar, merawat, mendidik dan membesarkan.

Ini adalah ujian yang sangat berat bagi bunda Lolo dan keluarga. Dari ceritanya selama ini dia seringkali menyelamatkan anak-anak didiknya di kolam renang ketika mereka akan tenggelam, tapi dia tidak bisa menyelamatkan anaknya sendiri *huuu sedih banget 😥

Beberapa waktu sebelum meninggal, Khonsaa memeluk erat mamanya lamaaa sekali, sampai-sampai adek-adeknya ngiri. Tapi mamanya membiarkan Khonsaa memeluknya, ngga pa-pa kamu sudah banyak ngalah sama adek-adekmu.

Minggu lalu, Khonsaa bertanya sama mamanya. Ma, apa rasanya nama mama masuk di koran Kompas ma? Mamanya hanya tersenyum. Aku pengen tau deh ma, rasanya gimana bisa masuk koran? Ternyata sayang, namamu sekarang benar-benar ada di koran, tapi sudah menjadi almarhum Khonsaa. Begitu kata mba Lolo.

PS. Mba Lolo adalah salah satu penggagas Koin Peduli Prita beberapa waktu lalu yang sempat diberitakan di media Kompas.

Menurut mba Lolo, ia sangat sadar bahwa Khonsaa adalah titipan Allah, tapi ini sangat berat karena Khonsaa berada di rahimnya selama 9 bulan dan tidak pernah ada kata siap untuk seorang hamba kehilangan buah hati yang sangat dicintainya 😥

Maka menurut mba Lolo, nantinya ia akan tetap bangga menulis di milis sebagai Elona (ibu 3 anak), ia berjanji tetap akan share pengalamannya saat mendidik dan membesarkan selama 8,5 tahun bersama Khonsaa, anak solehah yang sangat dibanggakan dan dicintainya.

Pesannya:

Bersabarlah dalam mendidik anak-anak yaaa.. Jangan mudah marah dan putus asa dalam menghadapi mereka, karena kita tidak pernah tau kapan yang akan dipanggil duluan olehNya.

Ini jadi pelajaran buatku, yang suangat sangat susah untuk bersabar. Berkali-kali kuminta dalam doaku supaya Allah menjadikan aku hambaNya yang lebih sabar lagi, baik dalam menghadapi anak, suami, keluarga, kehidupan bahkan diriku sendiri. InsyaAllah akan terus belajar sambil mensyukuri aku masih dikaruniai kesehatan dan ni’mat Allah lainnya yang berlimpah dan yang terutama masih diberi waktu berkumpul dengan anak, suami dan keluarga tercinta 😥

Doaku mengalir untuk ananda Khonsaa,

Selamat jalan sayang…
Senyum ceriamu akan selalu dikenang oleh Bunda, Ayah, Zaenab dan Thollah.

Tenang di sisi Allah ya, Nak.

Sungguh, janji Allah adalah menjadikan Khonsaa hijab bagi orangtuanya dari api neraka. InsyaAllah ia menjadi syafaat bagi orangtuanya. Amiin.

Advertisements




Sebuah Pandangan Sinis tentang Ibu Menyusui

26 10 2009

Subhanallah…

live pornSebenernya tulisan bunda kali ini mungkin akan semakin mempopulerkan tulisan si Miss ‘live porn’ Oey yang ada di situs The Jakarta Post. Tulisan diana menghebohkan dunia pernyusuan *halah eh perASIan 😉

Bunda pertama baca siy pas lagi asyik nge-tweet malem-malem waktu Lana udah bobo. Dapet link-nya dari mommika mamaRai, pas Bunda baca, hoek, rasanya pengen muntah 😯 Yes, I’m sure she’s sick. She is absolutely not a real woman with motherhood feeling inside, nor she’s not a mother 😦 Tapi yang pasti orang seperti Miss Oey mau nulis apa keq di Jakarta POst keq, di Herald Tribune or bahkan berbicara didepan DK PBB di New York tentang aliran ‘live porn’-nya dia, itu ga bakal menyurutkan semangat ibu-ibu, mamah-mamah, bunda-bunda, ummi-ummi buat terus menyusui, melakukan hal yang paling alamiah antara ibu dan bayi yang dilahirkannya, memberikan hak dasar anaknya, memberikan tetes-tetes berharga di awal kehidupan calon penerus bangsa *huuuu jadi terharu nulisnya 😥

 

Alhamdulillah AIMI sebagai wadah kumpulan busui-busui se Indonesia, langsung ngasi reaksi yang ga kalah smart dan mengajak pihak The Jakarta Post dan Miss ‘live porn’ untuk datang di kelas edukasi AIMI, supaya mata dan otak mereka yang buntu bisa terbuka, bahwa dunia pernyusuan yang tidak mereka anggap, adalah hal yang mulia bukan seperti mereka, yang setelah dewasapun tidak bisa memberikan kebaikan bahkan lewat informasi ke sekitar mereka! (Sumpah judes abis ya, abis kueseeellll, bodo 😡 )

 

Ini letter of dismay yang ditulis secara cerdas oleh Mia Sutanto, founder dan ketua AIMI, bravo AIMI & ASI 😀 Kalo tulisan si Miss ‘live porn’ mah ga usah ditulis disini dah, menodai blog gua ajah, kalo baca juga dijamin pada jadi buete 😡

 

Dear Jakarta Post

http://www.thejakartapost.com/news/2009/10/20/live-porn-aboard-economy-train.html

Live Porn Aboard an Economy Train? (article published October 23, 2009)

Horrendously dismayed and disappointed.To the editors of the most
prestigious English language newspaper in Indonesia, it is too
shocking beyond words how such an insulting and uneducated article
could be published for all and sundry to read, nary a glimpse of your
usually stringent and high standards? It reads like a cheap read light
tabloid trash.
We, the Indonesian Breastfeeding Mothers’ Association (Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia – AIMI), have always striven to educate the public
on the many and undisputed benefits of breastfeeding our children, and
support mothers in their decision to do so. Luckily, media response to
our various endeavors including from yours truly has always been
positive, and as a result more and more people in Indonesia are
becoming more aware that when it comes to infant feeding, there is
actually no substitute for breastmilk.

Even so, did you know that according to the Department of Health,
statistics have actually shown that less and less women are
breastfeeding their infants, and that babies bottled fed with cow’s
milk are on the rise? With irresponsible journalism such as this, how
can that not be true?.Optimistically speaking, upon reading this
article, we initially hoped that the author was actually trying to
highlight the fact that society has forgotten what one of the most
natural, loving and nurturing acts in the world looks
like…breastfeeding. Trying to read between the lines, we anxiously
crossed our fingers and eagerly scrutinized the words in order to see
whether there is a hidden message addressed to the Indonesian
Government; …please, provide more nursing areas in public spaces
for lactating mothers.

After reading the article several times back and forth, we asked
ourselves whether the author in her own sarcastic, unfunny kind of way
is trying to blame the male species for having sex and porn on their
brains all the time? Is she some kind of altruistic feminist trying
to, in her own acerbic way, defend us breastfeeding mothers in our
pursuit of happiness (read: giving breastmilk)? Sorry, turns out there
was no hidden agenda. The article reads exactly how it is, an ode to
society’s warped idea of breastfeeding, written by someone who
unfortunately was clueless about this special relationship between a
mother and her child.I couldn’t ignore the temptation of watching
them… she said. People are such voyeurs, there’s no denying that,
it’s human nature. However, being human means you have a choice, so
why not choose to look the other way if seeing a breastfeeding woman
in public is just not your cup of tea. As a woman, I felt
embarrassed. the author went on to explain. My dear ms. Oey, as an
organization dedicated to empowering women on their decision to
breastfeed their babies, we too experienced acute embarrassment when
reading that line. We were embarrassed at your lack of compassion,
what was your embarrassment about? Were you embarrassed for the
mother, or because of the mother? Did the embarrassment stem from
empathy because those men (with sex constantly on the brain) chose not
to look away and afford her some privacy but instead continued to ogle
the mother with their lascivious looks, or were you embarrassed
because the breastfeeding mother decided to expose her breasts in
public and thereby rendering herself, you and all women-kind as sex
objects.

Next, you went on to rant about how the baby was exploiting his/her
mother’s privacy just in order to satisfy his/her hunger or thirst. My
my ms. Oey, apparently you have such vast and extensive knowledge
about babies, breastfeeding and child-rearing. According to you, those
babies on the train who have yet to grasp the concept of right and
wrong, are so manipulative that they are willing to exploit their own
mothers in order to justify their selfish needs. I deeply pity you,
for it is truly very sad indeed when you don’t recognize that
…little babies have such great power to control their mothers and
get what they want… is actually, in the world of parenting, called
mother’s love.

It is with a heavy heart that we send this letter, for it seems that
breastfeeding mothers in Indonesia still have a very long way to go.
We have mountains of ignorance to climb, valleys of apathy to cross
and rivers of judgment to swim. Yes, we live in an imperfect world,
because in an ideal world what would have happened on the train is
this: the baby cries, the mother sensing her child’s distress decides
to give comfort (yes ms. Oey, breastfeeding is more than just
breastmilk), and you, recognizing that the mother is about to offer
her breast to her baby, kindly asks the men to turn and look away and
maybe use your body in order to shield the woman’s modesty.

The day when Indonesia deems breastfeeding in public as abnormal, when
people say it is porn and file it into the same category as playboy
magazines, sex toys, strip clubs, sex clubs, sex videos, it will be a
day of mourning for all children of Indonesia. Please people, if you
have your own hang-ups about seeing breasts other than in a sexual
context, don’t take it out on the innocent babies. Deal with it.

We end this letter with a quote from a very famous man, and we hope
that it will shed light on the ignorant, bring compassion to the
uninterested and foster understanding on those who would judge.. It
begins at birth. Our very first act after birth is to suck our
mother’s…milk. This is an act of affection, an act of compassion.
Without that act, we cannot survive. That’s clear…that’s the way of
life. That’s reality. (Dalai Lama and Howard C. Cutler, The Art of
Happiness, a Handbook for Living; 1998)

Regards,

Mia Sutanto, SH, LLM, Lactation Counselor
Indonesian Breastfeeding Mothers’ Association
Chairwoman Breastfeeding Mother

PS: we cordially invite Jakarta Post and ms. Oey to attend one of our
educational classes on breastfeeding in order to gain knowledge and
better understand the truly wonderful world of breastfeeding.

AIMI adalah organisasi nirlaba yang berbasis kelompok sesama ibu
menyusui dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan, informasi
tentang ASI & prosentase ibu menyusui di Indonesia.





Protected: Gua kecewa!

14 09 2009

This content is password protected. To view it please enter your password below:





It’s so hard

27 08 2009

Kenapa ya semua terasa sangat berat hari ini…

Aku merasa tak punya siapa-siapa yang bisa mengerti aku, yang bisa berbagi, yang bisa menasehati *sigh*

Padahal aku orang yang ekstrovert, terbiasa mencurahkan semua isi hati, tapi orang-orang yang dulu kupercaya, sekarang tak lagi, walopun orang terdekat sendiri

Sedih banget…





Cita-cita…

12 08 2009

Cita-cita…

Dulu waktu SD kalik, sering banget ngisi buku diary temen, isinya nama, nama panggilan, alamat, telpon, hobby, cita-cita, kata mutiara *kalo ada sumur diladang laku banget tuh* 🙂 Udah gitu sering kan waktu kecil ditanyain om ato tante kita, mirta, cita-citanya jadi apa nanti ? Hehe mengingat masa kecil… Dulu siy jawabnya maw jadi insinyur *ngebayangin keren pake topi proyek gitu lagi ngebangun proyek gedung pencakar langit halah*, maw jadi pramugari *pengen tampil modis maniz kemana-mana naek pecawat kaya emba-emba pramugari yang sering ngeliat wira-wiri di airport*, pas dah kuliah pengen jadi HSE Expert *halah…idealisme idealisme, pengen nyadarin semua pekerja di Indonesia, keselamatan itu hak kita. Hidup perjuangan buruh, hidup…halah* 😉

Nah kalo dah gede alias tuwir gini masih boleh juga kan punya cita-cita…

Entah kenapa posting hal ini, tiba-tiba terbersit aja sama hal ini jadi pengen nulis. Beberapa hari lalu, sebagai action dari kegundahan gua belakangan ini, gua udah nulis cita-cita terdekat jauh didalam hati dan pikiran. Kegundahan apa cih? *niruin Ayah nerjemahin muka bingung Lana* Cita-cita apa cih? Apaan cih…nanti yaaaa, soalnya blum di-discuss sama kepala RT niy, takut salah langkah, blom juga sounding-sounding dikantor, paling dirumah tapi tauk dech itu ada yang ngeh ga hehe :wink:. Pokonya cita-cita gua itu mulia koq, inshaAllah baik buat semua, buat anak gua Lana, buat suami gua, buat ortu gua, nenek gua, kaka ade gua, terutama dan yang harus dipuaskan dan dibahagiakan adalah diri gua sendiri! Haha, pokonya intinya cita-cita gua ini akan membahagiakan hati dan jiwa gua dah 😀

Waktu cepatlah berlalu supaya gua bisa segera menggapainya… 🙂





Pernahkah kau merasa…hatimu hampa?

5 08 2009

Lagi-lagi mengunjugi blog ini, daku tersentil…Ah apa karena dekat bulan Ramadhan jadi religius gini, duh naudzubillahi min dzalik, Ya Allah aku takut sekali jauh dariMu… 😥

Katanya ada 7 menu PAHE yang kalo sepaket PAHE ini terus kita jalani, insya Allah…ga bakal ngerasain seperti yang dirasain si purple hehe 🙂 Coba juga ahhh…

Terinspirasi dari sebuah lagu yang nggak sengaja lewat di kuping, “pernahkah kau merasa …hatimu hampa??” oleh sebuah grup band Indonesia

“YA”, dalam hatiku. Hampa banget deh  ketika sholat wajib udah mulai telat-telat waktunya, ketika sholat malam kebablasan, ketika sholat dhuha-nya terkalahkan oleh aktivitas, ketika satu hari nggak bercengkrama dengan Al-Qur’an, dan masih banyak lagi yang bikin hati ini hampa…

Ibarat mobil yang perlu minum BBM biar terus jalan, perlu oli biar mesinnya jalannya tokcer, perlu sesekali dicuci biar kotoran-kotoran yang menempel di badan mobil dan kaca hilang dan kembali bersih … Maka diri kita pun tidak jauh berbeda dengan layaknya mobil yang perlu di-maintenance … biar nggak kotor, bau, jamur, dll …

Layaknya mobil, hati juga perlu lho… Nih, Islam menawarkan PAHE – PAKET HATI BERSIH”, kalo bisa sih semua dijalanin, sepaket gitu lho … biar muanteb pula hasilnya, PAHE ini terdiri dari beberapa menu berikut:

  1. Sholat Wajib-nya diusahakan sebisa mungkin di awal waktu, berjamaah, syukur2 bisa menunggu waktu sholat di masjid, sip banget tuh … tau nggak, “Jika dia masuk masjid, dia dianggap seperti orang yang sholat selama dia menanti sholat. Malaikat bershalawat kepadanya selama dia berada di tempat sholatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia, ya Allah kasihanilah dia, selama dia tidak berbuat aniaya dan berhadats”  (HR.Muttafaq ‘Alaihi)
  2. Sholat Sunnahnya, coba dicek … Sholat malam and Sholat Dhuhanya, kelewatan nggak … dijamin deh, kalo udah sholat malam dan sholat dhuha, ditambah sholat sunnah rawatib  … hari-hari kita kan terasa lapang, nggak hampa lagi …jaminan mutu 101 % , bagaimana nggak lapang, kalo tiap malem kita curhat abis-abisan kepada Allah, nangis sampai berliter2 … minta sepuas-puasnya,  kalo sholat dhuha … insha Allah bikin rezeki kita lebih barokah lho… terus…terus, terus terus !! terusin aja sendiri… maksudnya, jalanin dulu, baru tahu khasiatnya
  3. Tilawah Al-Qur’an , kalopun satu hari cuman 1 halaman, itu udah bagus kok, apalagi kalo ditambah baca arti dan dipahami makna-makna yang terkandung dalam ayat-ayat suci itu … bikin segerrrr men… seger bin sejuk bin adem lho .. belum lagi ada bonus nya lho .. kalo 1 huruf dilipatgandakan 10x kebaikannya, bagaimana kalo 1 halaman, apalagi 1 juz tiap hari ….
  4. Sedekah, nggak usah muluk2 harus ribuan ato puluhan ribu, kalopun Anda bersedekah 500 perak, tapi istiqomah , itu insha Allah lebih disukai oleh Allah. coba sediakan kotak amal kecil2 di rumah/ kamar, setiap hari, entah 500 ato seribu , ato sesekali 10.000 ribu, masukkan aja di kotak amal itu, nah, kalo udah 1 bulan ato 2 bulan … coba deh, diitung, terus cari kotak amal di masjid ato ke panti asuhan terdekat, masukin ato sumbangin ke siapapun yang bener2 membutuhkan … yakin deh. .. bikin hati mu bakalan terasa plong ...and nggak usah dipikirin terus jumlahnya, penting ikhlasin aja .. Allah nanti yang akan mbalas kok … dan JANGAN TAKUT MISKIN DENGAN BERSEDEKAH … TAKUTLAH JADI KAYA DENGAN BERSEDEKAH ….
  5. Dzikiringet Allah, hati yang berdzikir, lisan yang basah karena dzikir, dan jasad yang berhiaskan akhlak yang baik juga termasuk dzikir … yaitu selalu menggunakan apa yang ada dalam diri kita untuk tetep inget pada Allah ‘Azza Wa Jalla, wherever kalo bahasa kampung… , “Dan ingatlah, dengan mengingat Allah , dapat menentramkan hati” (Ar-Ra’d : 28)
  6. Puasa, ada puasa sunnah senin kamis, daud, pertengahan bulan, dan masih banyak lagi fasilitas-fasilitas yang Allah sediakan untuk membersihkan kerak-kerak yang ada di hati kita … dengan menahan lapar, dengan merasakan apa yang dirasakan oleh saudara2 kita yang sedang kelaparan … Sehat lahir batin, itu udah diuji lho oleh dokter, lokal maupun interlokal …. puasa itu bikin sehat !!! dijamin deh
  7. Menjalin Ukhuwah dan Silaturrahim, ukhuwah itu bikin hati yang sedang gelisah jadi lebih terhibur, teringat akan canda tawa, tausiyah penyejuk hati seorang kawan seperjuangan, terngiang pengalaman rihlah bersama, itu bikin hati yang sedang lesu jadi tambah semangat lagi … bener nggak ?? Di sisi lain, orang yang menjalin dan menghubungkan tali sillaturrahim itu, dapet banyak reward dari Allah, salah satunya, umur nya barokah, dan juga harta yang barokah juga …




Sholat everywhere, anytime…

5 08 2009

Baca artikel disini bikin merinding hehe maksutnya diingatkan, tentang shalat… Hmm…masih sering ga diawal waktu nech… Mumpung masih ada waktu ayo diperbaiki…