Komunikasi dengan Anak

16 06 2017

Praktek komunikasi produktif dengan anak harus terus dilakukan untuk banyak tujuan positif walaupun dengan berbagai tantangan yang muncul silih berganti. Salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah bisa mendapatkan kenyamanan dan kedekatan dalam hubungan antara orang tua dan anak. Beberapa hal yang bunda terus usahakan untuk dijalankan dalam rangka meningkatkan cara komunikasi menuju hasil yang produktif adalah:

Mengamati dan mendengarkan

Kadang sering lupa adalah mendengarkan setelah melakukan pengamatan atau observasi saat terjadi komunikasi dengan anak. Salah satu tantangannya adalah mengamati dan mendengarkan dengan penuh antusiasme saat kita mendengarkan hal yang menurut kita sepele, padahal anak-anak berharap orangtuanya akan tertarik dan mendengarkan ceritanya. Dengan menunjukkan ketertarikan dan mendengar aktif akan memunculkan rasa dihargai pada diri anak.

Menunjukkan empati

Saat mendengarkan cerita anak dan menunjukkan respon yang baik, bunda harus menunjukkan respon yang membangun, walau respon yang diberikan harus sejujur-jujurnya karena itu dapat menjadi ajang untuk mendidik (tarbiyah) dengan memberikan nasihat yang membangun bagi anak. Begitu pula ketika anak tampak sedang dirundung masalah, janga lupa untuk menanyakan perasaannya dan menerima perasaan tersebut. Rasa diterima dengan kondisi emosi apapun diharapkan dapat membuat anak tetap nyaman dan tetap mau terbuka dan menjadi dekat dengan orantuanya.

Jelas memberikan kritikan atau pujian

Tiap anak memiliki karakter yang berbeda. Ada yang introvert dan ekstrovert. Anak introvert adalah tipe pendiam, tertutup dan tidak mudah bercerita. Anak-anak bunda sepertinya termasuk ekstrovert walau begitu momen komunikasi yang prioduktif harus dibuatkan waktu khusus karena saat ada waktu luang yang khusus dialokasikan untuk komunikasi produktif bisa sekalian melakukan evaluasi untuk perbaikan ke depannya. Jadi biasanya dicari keadaan santai, pada saat anak sedang merasa senang hatinya sewaktu bermain misalnya. Untuk memulainya memang orantua yang harus aktif, dimulai dengan kalimat produktif supaya tujuan praktek komunikasi tercapai.

Memberikan pilihan

Saat berkomunikasi dengan anak harusnya bisa menjadi ajang diskusi sehat antara orang tua dan anak. Sewaktu diskusi anak akan berusaha berfikir kritis dan analitis dengan pertanyaan yang kita ajukan, bukan dengan komunikasi dengan tujuan menghakimi atau memarahi. Sebisa mungkin masing-masing pihak diberikan kesempatan berbicara sehingga anak merasa dihargai. Kemudian akan muncul diskusi lanjutan dari pilihan yang muncul dan dipilih anak bisa berupa konsekuensi dari pilihan tersebut. Bunda sudah berusaha menerapkan ini pada si kakak yang sudah berusia 8 tahun, tetapi untuk si adik yang berusia 3 tahun belum bisa berjalan efektif walau sudah mulai dikenalkan diskusi,  memberi pilihan, dan konsekunesi logis yang akan muncul.

Memberikan maaf dan pujian

Kata-kata ini sangat mudah dibaca di artikel manapun terkait komunikasi, tetapi pada kenyataannya tidak mudah. Tidak mudah untuk mengakui kekurangan dan mengakui  kesalahan dan meminta maaf. Tetapi kebiasaan baik tidak ada salahnya diberikan contoh dan dilakukan secara konsisten. Sambil tetap tidak lupa dimasukkan aspek pendidikan (tarbiyah) pada anak supaya pesan atau nasihat dari orangtua bisa diserap oleh otak anak. Jika memang kesalahan itu ada dari pihak orangtua, jangan enggan untuk minta maaf pada anak. Hal seperti ini harus ditanamkan pada anak sejak usia dini, agar nantianya tidak terbiasa melempar kesalahan ke orang lain.

Nah sebaliknya, jika anak berhasil mencapai sesuatu jangan lupa pula untuk memberikan pujian yang membangun sambil terus kita dorong untuk melakukan lebih banyak lagi hal-hal yang baik dan bermanfaat.

 

Sepertinya masih banyaaakkk banget yang bunda harus lakukan dan yang penting adalah konsistensi sehingga akan menjadi suatu kebiasaan baik yang tertanam di dalam diri anak…mudah-mudahan Allah memberikan kemudahan, aamiin

 

#level1

#day3

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayjakarta

#komunikasidengananak





Masih tentang Komunikasi

10 06 2017

Gimana kelanjutan bunda belajar komunikasi yang produktif dengan anak? Sebelumnya yang mau dievaluasi adalah gimana siy hubungan orang tua anak maksudnya hubungan bunda dengan kakak dan juga ade? Yang pasti bunda pengen punya hubungan yang menyenangkan dan positif buat anak-anak. Positif dalam arti bunda bisa menjadi teladan yang baik dan menyenangkan adalah bisa menjalankannya dengan hati yang iklhas dan riang.

Dalam penelitian terkini juga menyebutkan bahwa anak yang tumbuh dengan komunikasi positif dengan orangtua cenderung memiliki kepribadian, daya tahan terhadap stress dan self esteem yang lebih baik dibandingkan dengan anak yang memiliki hubungan dan komunikasi yang buruk dengan orangtua.

Menurut bunda komunikasi yang produktif harus diterapkan sejak dini pada anak, karena bunda juga ingin saling menghargai dan anak-anak bisa tumbuh sehat dan punya tumbuh kembang yang optimal.

Komunikasi kan katanya ada yang verbal dan non-verbal ya, nah di bagian bunda keduanya mencolok nih…verbal masih punya banyak celah perbaikan begitu juga dengan non verbal…hahaha…Kalau dari sikap tubuh sepertinya bunda sudah begitu terbuka, atau semua orang bisa membaca ekspresi, gestur dan sebagainya terkait emosi yang bunda rasakan, lalu apakah semua bisa dikembalikan ke porsi komunikasi yang baik didukung dengan sisi non verbal yang terbuka tadi, ternyata belum tentu…

Anak-anak sering menyadari bahwa bundanya sedang marah atau tidak senang hati, mereka akan memberikan waktu bunda untuk menenangkan diri, at least tidak mengganggu bunda di waktu tersebut. Kakak berusaha memfasilitasi ade supaya bisa mengerti bahwa bunda sedang butuh waktu menenangkan diri. Tapi untunya bunda bisa cukup cepat men-‘switch’ tuas emosi ke 2 hal yang berbeda khususnya dengan melihat atau mengerjakan sesuatu yang dirasa menyenangkan. Tapi terkadang hal itu seperti menggambarkan mood swing yaa…Yang perlu diperhatikan dan diperbaiki adalah bunda harus lebih sering mendengarkan kakak dan ade bercerita dengan sikap tubuh lebih positif sehingga memunculkan rasa tertarik, perhatian  dan penghargaan untuk kesempatan bercerita dan berbagi antara ibu dan anak.

Satu lagi yang ini bunda tingkatkan adalah menerima perasaan baik perasaan diri bunda sendiri maupun perasaan anak. Didalam Komunikasi Baik Benar dan Menyenangkan, langkah pertama yang dilakukan adalah menanyakan perasaan anak. Amati dan terima perasaan anak dengan cara mengucapkan perasaan mereka. Dengan cara ini diharapkan menumbuhkan rasa anak merasa dia akan diterima saat berada dalam emosi apapun.

Trus apalagi yang bunda highlight yaitu berkomunikasi dengan hati tenang, kaream apa…saat hati dan pikiran sudah tenang, rasanya lebih mudah berpikir logis dan menerima masukan. Begitu juga dengan anak-anak, kalau sedang menangis bunda akan bilang selesaikan dulu ya nangisnya nanti bunda tunggu di sana, baru setelah itu mulai bicara dan memasukkan pesan dan nasihat-nasihat yang akan dapat diserap dengan baik oleh anak saat hati dan pikirannya sudah tenang atau stabil emosinya.

Semangat terus berlatih supaya lebih baik ya bunda

 

#level1
#day2
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip





Bicara tentang Komunikasi

6 06 2017

Berapa banyak orang menghabiskan waktunya berkomunikasi dengan orang lain dalam hidupnya sehari-hari?

Berapa banyak pula orang yang mengakhiri proses komunikasinya tersebut dengan bahagia karena mencapai tujuannya atau malah mengakhirinya dengan rasa mangkel, dongkol, atau baper akibat interaksinya dengan lawan bicara yang (akhirnya dianggap) menyebalkan, tidak mau mengerti, susah dibilangin, endebre endebre…

Kalau dipikir-pikir, setiap orang mulai dari bayi yang baru lahir pun sampai orang yang sudah renta pun pasti melakukan komunikasi dengan berbagai bentuk sehari-harinya.

Lalu masalahnya dimana?

Kalau untuk saya pribadi, banyak….hahaha…apa karena komunikasi sering dijadikan alasan untuk terjadinya kesalahpahaman, perbedaan pendapat yang berujung ribut, bukan hanya dengan pasangan hidup lho ya, bisa dengan orang tua, teman, kalau saya dengan klien sewaktu kerja, hahaha…

Trus salahnya dimana? Trus kurangnya dimana? Kalau saya melihat untuk pertama kali pasti ke dalam diri saya dimana letak banyak salahnya, banyak kurangnya. Kenapa ke diri sendiri, karena saya berprinsip, hanya saya dan Allah yang bisa dan punya kendali (penuh) atas diri saya, tidak suami, tidak anak, tidak juga orang tua saya.

Lalu muncul selisih paham dalam komunikasi dimana? Nah baru deh sekarang kita intip teorinya…kenapa pakai teori, iya dong…kan Rasulullah bilang berilmu dulu baru beramal, kalau mau komunikasinya efektif dan produktif ya harus tau dulu teorinya, haiisshh…mantabh yaah 😉

Jadi sekarang saya akan mencoba untuk menerapkan komunikasi efektif dan produktif, kenapa? Karena saya ingin mencapai tujuan saya, insya Allah supaya ilmu yang didapat tidak sia-sia, untuk bagian awal dan paling mendasar saya akan memperbaiki komunikasi dengan diri sendiri dulu, baru nanti dengan orang-orang di sekitar saya.

Dari teori yang saya baca, langkah awal untuk memulai komunikasi produktif dengan diri sendiri adalah dengan memilih kosakata yang kita gunakan sehari-hari. Selama ini kata-kata yang salah pilih rasanya sudah baik, sudah santun, dengan intonasi beragam sesuai keadaan emosi hahaha…tapi udah kecepatan bicara memang saya agak gaspol dikit alias cepet ngomongnya, nah ketemu deh satu SFI istilahnya dulu waktu suka ngaudit yaitu scope for improvement, kenapa bisa diperbaiki, karena tidak semua orang bisa cepat mengerti apa yang saya maksudkan, terutama bicara dengan anak-anak, atau saat menjelaskan suatu teori kepada mahasiswa di kelas, walau sudah menggunakan analogi atau contoh memang sebaiknya saya memelankan cara bicara saya *deal 😀

Menurut teori, kosakata yang kita pakai adalah keluaran spontan dari struktur berpikir dan cara kita berpikir. Jika kita terbiasa berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya. Setuju ga? Kalau saya setuju banget, karena sering liat contohnya di teman-teman sekitar 🙂 Jika kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya, itu kata teori. Pemilihan kosakata juga dikatakan sebagai  pencerminan diri kita yang sesungguhnya, karena apa? Karena ternyata pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Dahsyat juga yaa…makanya sampai ada peribahasa: tong kosong nyaring bunyinya yaa…Walaupun bunyi tapi kalau terbiasa membiarkan kinerja otak negatif ya yang nyaring bunyinya alias cempreng wahahahahha…Makanya kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna, tsaaahh…

Memang ga semua hal harus dikondisikan positif, tetapi kalau kita tau bahwa kata-kata yang kita ucapkan itu secara ga sadar memberikan energi, kenapa ga kita pilih kata-kata kita yang selalu bawa banyak energi positif dong…secara energi positif itu di suatu kondisi, susah untuk didapatkan sedang energi negatif sangat mudah menyebar alias didapatkan, bener ga?

Lalu ketika ada masalah, ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, keinginan apa kita tidak boleh menanggapinya negatif? Menanggapi boleh, tetapi reaksinya yang harus tetap positif, gimana caranya…salah satunya ya tadi mengganti kata-kata yang sifatnya negatif menjadi positif misal kata masalah diganti dengan tantangan, kata susah diganti dengan menarik, kata tidak tahu diganti dengan akan cari tahu…

Yang saya rasakan, ketika mencoba mengganti kata-kata menjadi lebih positif, pertama didalam dada muncul rasa senang, sepertinya saya sudah memang duluan karena berhasil melihat si ‘masalah’ jadi tantangan, padahal baru keucap di bibir doang, di hati terasa senang. Menurut teori, ketika kita berbicara ‘masalah’ kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi. Tapi kalau kita mengubahnya dengan ‘tantangan’, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi, great!

Nah tantangan yang sebenarnya dihadapi buat saya adalah ketika berinteraksi dengan anak, ini dulu yaa…lawan bicara lain akan dipertimbangkan di lain waktu hahahha…Kenapa dengan anak saya berharap bisa melakukan komunikasi yang efektif dan produktif, pertama karena saya ingin menjadi tauladan yang baik dalam mendidik dan memberi pengajaran untuk anak-anak saya, kedua saya ingin anak-anak saya akhirnya meniru dan mengambil hal-hal yang baik termasuk cara berkomunikasi dari saya sebagai ibunya. Semua ini saya lakukan karena rasa tanggung jawab saya tentunya sebagai Ibu yang nanti akan saya bawa di hadapan Allah di hari akhir nanti, jika saya bisa melalui tahap ini dengan baik, insya Allah balasan besar dari Allah sudah menanti 😀

Lanjut dari pemilihan kata-kata tadi berhubung saya orang yang terbiasa bicara cepat, maka kadang lawan bicara saya kesulitan memahami maksud ucapan saya. Nah langkah awal yang akan saya coba perbaiki adalah bagian intonasi dan suara yang ramah, kenapa begitu…ya itu tadi dengan kebiasaan bicara cepat, kadang intonasi dan keramahan suara saya kurang terdengar, maksudnya kedengeran judes bin jutek gitu, wkwkwkwkwk…

Minggu kemaren, anak saya yang sulung sedang mengikuti Penilaian Akhir Sekolah. Biasa di waktu ini, suasana rumah tegangannya suka naik turun nih mengikuti suara mulut dan suara hati alias emosi si empunya rumah. Kadang rumah rapi, tapi lebih sering berantakannya. Ga sempet beberes yang penting nemenin si Kakak belajar dulu. Nanti pas sesi belajar ada aja gangguan datang dari si Adek, nah kan…tantangan mempraktekkan ilmu komunikasi produktif dicoba, apa pas ketemu masalah, di hati dan pikiran tetap dianggap masalah atau di upgrade jadi tantangan? Keseringan sih masih mengganggap tetap masalah dan berakhir temenan sama reaksi emosi negatif, tapi nanti di kondisi lain pengen nyoba lagi lebih sering ketemu si tantangan…gitu terus mikirnya.

Trus apa besoknya sudah berhasil menaklukkan si tantangan, rasanya sih belom juga, wong masih pekan ujian hahahha…mulai ngeles, tapi justru saat seperti ini ya saat yang tepat untuk latihan, tapi biar tetap waras dan eling, diawal sudah dibilang dulu ke si Kakak dan Adek bahwa ibunya lagi belajar dan punya PR buat latihan melakukan komunikasi produktif, jadi kalau meleset dikit alias nada naik mata melotot mohon dimaafkan dan diingatkan hahahha…kalau udah gini harusnya tambah semangat ya latihannya, karena penontonnya ada bocah-bocah yang secara langsung melihat prakteknya. Besok cerita lagi ya lanjutan praktek minggu lalu, apa ada perubahan ke arah kebaikan atau gimana… Nanti coba saya letakkan di alat ukur semacam tabel ya, supaya progress nya terukur insya Allah…

 

 

 





Kangen!

22 06 2010

Tiba-tiba pagi-pagi ini kangen nge-blog lagi, kangen blogwalking lagi 🙂

Jadi dimulailah pagi hari ini mengunjungi ibuk-ibuk teman di dunia maya, mampir ingin tau kabar mba Siska~mommy Rai, Cicha~mamaShaina, Indah~mommyGanesh, Della~mommyDaneen, Iti~mamaZK, semuaaa dech…

Setelah 2 bulan hiatus, mudah-mudahan kali ini aku ga males lagi yaww *berdoa sungguh-sungguh

Banyak siy sebenernya yang mau diceritain, aseli…buanyak pisan, foto-foto juga banyak tapi rasanya ga ada waktu deh 😥

Ahh…ini slalu jadi alasan utama ya, padahal udah dikasi sehari 24 jam sama Allah SWT jangan kufur dunk 😀

Okeh, kumpulkan semangat, jagalah supaya tetap membara, pegang teguh komitmen, lakukan!

hihi 😉





Our First Reksadana(s)

13 01 2010

Yeaaa…akhirnya punya dan berhasil punya reksadana juga 🙂 

Hehe setelah kedatangan gua ke-4 kalinya ke agen penjual reksa dana (RD), pertama ke bankmandisendiri syariah, dan ampe ke-3x ke bank mandisendiri konvensional

Kenapa sampe ampe 4x dateng baru bisa berhasil beli?

Mungkin karna gua blum pengalaman, yang pasti pas dateng pertama ke bank yang syariah, ketemu CSnya mungkin masih training, coz ditanyain RD malah melongo, bingung, trus balik nanya, ibu perlu informasi apa nanti saya tanyain ke bagiannya, lahhh…

Disitu dapet info RDnya ada 2 jenis, lupa apa aja, pokonya start 100juta, ok, it’s not suitable for me as new-starter investor

Cari-cari info lagih, dapet di bankmandisendiri konvensional juga agen penjual RD dan disitu ada berbagai MI termasuk yang mengelola syariah punya.

Janjianlah sama CS bank itu yang paling deket ma kantor, kebetulan CSnya bapak-bapak yang kayaknya dah dapet penghargaan as CS teladan, dibuktiin dengan gayanya yang ngedadahin gua dengan melambaikan keduan tangannya pas gua baru masuk pintu bank, jiyaaa 😉 Ealah melambai tho’… xixixixi…

Beuh, kali ini pembukaannya panjang pisan. Dia ampe bilang seneng deh, punya nasabah yang udah aware sama investasi non-deposito dan tabungan. Saking antusiasnya ada gua nangkring di kursi tu CS ampir sejam, gubraks…temen gua yang nunggui ampe kelaperan berat jadinya errgghhh… Bagusnya ni bapak CS lengkap nian menjabarkan produk RDnya. Semua portofolio MI dia print-in buat gua, dia terangin atu-atu dari RD pendapatan tetap sampe saham. Ampe diana nyontohin akunnya sendiri yang dia tanem di RD pendapatan tetap. Yaaa lumayan dia invest 50juta dipertengahan November, dan di pertengahan Desember dapet bunga 2,5juta

Sebelnya lagi pas Pak CS nanya: ”Mba beli RD untuk apah?”

Gua: “Buat dana pendidikan anak gua sama dana pensiun suami gua”

Langsung deh jiwa agen asuransi unitlink-nya (catet: unitlink) keluar, doeennggg! Mule deh dia njelasin tu produk asuransi pendidikan, blah…blah…blah…

Hadeeehhh gua buru-buru niy, udah ngebet punya RD, halah udah kayak menyangkut hidup mati ajah hehe…

Padahal gua pengen nutup tahun 2009 kemaren dengan sakseis menuhin target investasi awal gua.

Tibalah saatnya…yang paling menyebalkan, pas gua udah desak terus: “Jadi gimana, saya bisa beli RDnya ga?”

Dijawab: “Bisa mba, mba mau yang berapa, 150 juta apa 250 juta?”

Gua: “Haaa…saya mah investor pemula Pak CS, baru belajar, banyak bener ampe ratusan jeti hikikikik 😉 Ada kan produk yang mulainya ratusan ribu sajah?”

Pak CS: “O_o ada Mba, tapi mahap, saat ini bursa sudah tutup, jadi sudah tidak ada transaksi.”

Gua: Plakk “Whoootttttt?” Grrhhhh…. *mangkel

Yaeyalah dah tutup dia nyeramahin gua dari sekitar jam 11 lewat sampe jam ½ 1an, innalillahi…Walhasil hari itu batal gua beli RD ya…

Gua niat balik lagi ke bank sejenis tapi yang deket rumah, pas sama gua cuti akhir taun, tu bank kan masih buka ½ hari, gua dateng lagi ke kali ini Ibu CS

Ini Ibu CS juga bingung pake form apa buat beli RD…Hadeehh ini CS-CS senior (kalo ga mau dibilang tuwir) ko kayak ga paham produk bank-nya ya ealah… dan karena udah mau tutup taun lagi-lagi dibilang sudah tidak ada transaksi, ihhh gua males dah beli RD, sebbelll 😦

Tapi setelah konsul sama Dhita, bunda Azka yang udah lumayan sering bela-beli RD as investasi, gua dikasi tau, kalo dibilang bursa dah tutup, minta aja CS-nya execute besok harinya, jadi kita ga bolbal ngurusin itu doang, duhhh benerrr, trims banget inponya sangat berguna Dhit 🙂

Pas cuti ada panggilan yang di Pulo Gadung, gua sempetin paginya mampir lagi di Ibu CS, masih inget dong ya sama gua hehehe 😉 Tapi ga ada tuh dia nerangin seperti yang diterangin si Bapak CS yang melambai, ahhh baik juga tu Bapak CS mau bagi ilmu dan inpo lumayan lengkap ma gua 😉 Masih aja ada yang kurang, niy Ibu CS kaga punya standing instruction form untuk installment plan ato pendebetan tiap bulan RD gua, alamakkk…cakeppp…yo wes itunya next time bu *sigh

Jadi deh gua udah punya 2 RD, satu RD campuran dan satu lagi saham. 2-2nya dikelas syariah (lagi-lagi ini preferensi gua aja, selama ada produk syariah, gua pake! Tapi kalo ga ada berarti kan kondisi darurat, bole yang konvensional dipake, hehe itu pandangan awam gua aja yak 😉 )

Nah, catetan sedikit soal RD seperti ini ya, beberapa juga hasil ngobrol sama temen yang udah duluan investasi di RD:

  • Agen Penjual RD : bisa bank atau Manajer Investasi langsung yang harus terdaftar sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana di Badan Pengawas Pasar Modal & Lembaga Keuangan (BAPEPAM-LK)

  •  Jenis RD (mutual fund) konvensional (biasa) ato ada RD terstruktur, terproteksi, dll. Cukuplah coba yang biasa dulu untuk new-starter kayak gua:

 

  • Reksa Dana Pasar Uang
  • Reksa Dana Pendapatan Tetap
  • Reksa Dana Saham
  • Reksa Dana Campuran

 

  • Manajer Investasi : pihak yang kegiatan usahanya mengelola portfolio efek untuk para nasabah atau mengelola portofolio investasi kolektif untuk sekelompok nasabah, kecuali perusahaan asuransi, dana pensiun, dan bank yang melakukan sendiri kegiatan usahanya berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. Misalnya kalo pernah denger Danareksa Investment Management, Fortis Investments, Mandiri Manajemen Investasi, Manulife Aset Manajemen Indonesia, Schroder Investment Management Indonesia itu contoh MI-MI besar dan beberapa seperti Danareksa dan Mandiri itu milik pemerintah. Sebaiknya sebelum melakukan transaksi pembelian (subscription) RD, kita baca dulu prospektus RD yang diminati dan portofolio (kinerja) MI-nya.

 

  • Bank Kustodian : pihak yang memberikan jasa penitipan efek dan harta lain berkaitan dengan efek serta jasa lain, termasuk menerima deviden, bunga, dan hak lain, menyelesaikan transaksi efek, dan mewakili pemegang rekening yang menjadi nasabahnya.

 

  • Installment Plan : fasilitas ini memberikan kemudahan kepada nasabah, agar dapat membeli reksa dana (top up) secara berkala tanpa perlu melakukan transaksi pembelian (subscription) di Cabang. Rekening tabungan nasabah akan didebet (pada Hari Bursa) sesuai dengan jumlah dan tanggal yang telah ditentukan. Nah fasilitas ini bermanfaat buat investasi yang kayak gua perluin. Jadi gua bisa menghitung kalo nanti usia Lanafarra 4 tahun dan mau masuk playgroup yang uang pangkalnya 25juta, gua mesti subscription beli RD berapa, sisanya dicicil berapa per bulan biar nanti pas untuk masuk playgroup gituh. Inget ya, kita ga usah perhitungin dulu bunga, bagi hasil, NAB dan sebagainya. Fokus harus tetep untuk investasi sampe 4 tahun kedepan, gitu kata Dhita 😉

 

Inget : High Risk – High return >< Low Risk – Low Return

 

  • Diversifikasi investasi, ingat: ”Never put your eggs in one basket” . Nah sasaran selanjutnya logam mulia niy, siap-siap dulu ach 🙂

 

  •  Keuntungan investasi di RD: diversifikasi alias banyak macemnya, MI yang profesional, likuiditas yang tinggi (setiap saat nasabah/ investor dapat melakukan penjualan kembali (redemption) unit penyertaannya dan MI wajib membelinya kembali dan membayarkannya maksimal T+7 hari bursa), banyak pilihan dan fleksibilitas (baik itu reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, saham atau campuran yang sesuai dengan kebutuhan nasabah/ investor, bisa juga dilakukan switching (pengalihan) dari satu reksa dana ke reksa dana lainnya, transparansi laporan keuangan serta laporan portofolio secara berkala, dan biaya rendah (misal biaya subscription tergantung dari MInya, ada MI yang free subscription fee, ada juga yang mengenakan 1-2.5% subscription fee)




Bakteri di Makanan

7 01 2010

Ini catatanku yang kudapat dari milis MPASIrumahan

Sengaja dirangkum mau dikasi ke orang rumah biar pada tau juga gimana perkembangbiakan bakteri khususnya di makanan.

Biar bisa memperlakukan makanan dan diri sendiri lebih higienis lagi

Kan mau hidup sehat ya 🙂

Salah seorang temen si bundee DiahRe sempet nonton salah satu acara di National Geographic, tentang makanan yang ditempatkan di udara terbuka.

Disitu diliatin kita itu dikelilingin oleh jutaan bahkan milyaran bakteri di sekitar kita

Nah hasil eksperimen di lab, menunjukkan bawah dalam 20 menit, bakteri akan berkembang, dari 1 menjadi ratusan kemudian jutaan! Hanya dalam waktu 20 menit!!

Makanan yang diletakkan di ruang terbuka, walopun ditutup, akan cenderung menjadi tempat bakteri berkembang biak lebih cepat

Trus ditunjukkan, perkembangan bakteri dari 20 menit, 1 jam, 1 hari sampai seminggu, dengan kondisi makanan-makanan tersebut tertutup rapat.

Makanan-makanan itu diantaranya adalah susu cair, ayam, telor, sayuran, keju, kue

Dan yang paling cepat basi adalah kue alias makanan jadi/ makanan matang

Dan yang paling aman dikonsumsi walopun makanan tersebut terasa basi adalah susu, karena bakterinya termasuk tergolong baik

Tapi makanan yang laen yang bisa nyebabin keracunan yang lebih parah lagi, hiii L

Nah, solusinya adalah menyimpan makanan matang, di dalam kulkas!

Artinya, setelah makanan dingin, ±10 menit di suhu ruang, segera tutup dan masukkan kedalam kulkas

Jika disimpan dalam chiller/ kulkas bawah (yang suhunya antara 5-15 derajat Celcius) dapat menghambat pertumbuhan bakteri, tetapi ingat : MENGHAMBAT, bakteri tetap bereplikasi/ bertambah banyak.

Apabila disimpan di freezer/ kulkas atas (dengan suhu 5 – minus 20 derajat Celcius) dapat MENGHAMBAT penambahan HAMPIR semua jenis bakteri.

That’s why, penyimpanan di kulkas harus memperhatikan banyak hal, harus tertutup rapat (gunakan plastic wrap/ aluminium foil/ atao wadah bertutup rapat seperti tupperware/ lock n lock)

Kulkas jangan terlalu penuh, karena suhunya akan tidak stabil. Usahakan membuka pintu kulkas hanya sebentar, jangan ngadem di depan kulkas…hehehe 😉

Jadi, jagalah kebersihan dan daya dingin kulkas dengan sering-sering membersihkan kulkas

Tambahan info:

Batas waktu yang aman setelah makanan disajikan, adalah 4 jam, itupun dengan suhu yang dijaga. Makanan panas dihidangkan panas, dan makanan dingin dihidangkan dingin (cake misalnya).





Financial Check-Up

5 01 2010

Sesuai dengan semangat awal tahun, gua nemu artikel ini disini

Cukup membukakan mata supaya bisa lebih terarah kedepan (khususnya masalah finansial), insyaAllah 😀

Jadi sengaja diunduh disini biar keingetan terus (tentunya dengan pemenggalan seperlunya)

Medical Check-Up mungkin mayoritas kita sudah biasa, apalagi kalau yang bekerja pada perusahaan besar – secara berkala wajib menjalani ini. Untuk apa ?, agar kita tahu kondisi kesehatan kita yang sesungguhnya – dan untuk dapat melakukan langkah-langkah pencegahan atau penyembuhan bila ditemukan gejala yang kurang baik pada kesehatan kita.

Lantas apa itu Financial Check-Up ?, sama dengan Medical Check-Up – hanya gunanya bukan untuk mengetahui kondisi kesehatan tubuh kita – tetapi untuk mengetahui kesehatan keuangan kita.

Sama dengan Medical Check-Up, Financial Check-Up ini juga perlu untuk mengetahui kondisi keuangan kita yang sesungguhnya – dan diambil tindakan-tindakan perbaikan bila ada yang kurang beres.

Untuk melakukan Medical Check-Up kita membutuhkan (team) dokter yang masing-masing memiliki kompetensi dibidangnya. Demikian halnya dengan Financial Check-Up kita juga membutuhkan bantuan dari orang yang competent dibidangnya seperti para Financial Planner, Wealth Management Specialist dlsb.

Sehat financial tidak identik dengan kekayaan; bahkan banyak juga orang yang tergolong kaya tetapi justru tidak sehat secara financial. Sebaliknya dengan hidup yang pas-pasan pun kita bisa sehat secara financial.

Mengapa demikian ?, karena kesehatan financial bukan potret untuk sesaat, tetapi suatu proses sebab akibat yang berjalan dalam jangka panjang. Pola hidup kita sekarang berpengaruh langsung pada masa depan kita.

Ingin mencoba Financial Check-Up untuk diri Anda sendiri ?. Dibawah dikutipkan salah satu Financial Check-Up sederhana yang ditayangkan CNBC belum lama ini (di tayangan tersebut disebut Financial Stress Test). Yang diperlukan hanya menjawab secara jujur YA atau TIDAK lima pertanyaan dalam tes tersebut.

Bila ada dua saja dari lima pertanyaan tersebut yang secara jujur dijawab YA; maka Anda berpotensi memiliki masalah financial. Tidak perlu berkecil hati, justru dengan mengetahuinya sekarang Anda dapat membuat langklah-langkah yang diperlukan untuk melakukan perbaikan.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memudahkan langkah kita semua.